Bahkan Dolly Sekalipun Enggan Namanya Terukir Abadi di Lokalisasi – detikcom

3 Gaya Hidup Irene Red Velvet, Jadikan Body Goals Turun 15 Kg! – Arah Kata – Arah Kata
Juni 19, 2022
Jangan Tertukar! Ini Bedanya E-Wallet dengan E-Money – Teknologi – Berita Terbaru Harga dan Spesifikasi Handphone, Info Fitur Smartphone, Komputer dan Laptop
Juni 19, 2022
Show all

Bahkan Dolly Sekalipun Enggan Namanya Terukir Abadi di Lokalisasi – detikcom

Dolly, sosok legendaris dunia prostitusi Surabaya yang tercatat dalam sejumlah versi sejarah, sempat memprotes kenapa harus namanya yang melekat dengan lokalisasi itu? Padahal ada banyak nama germo lain di kawasan tersebut.
Sebuah makam dengan batu nisan ukuran cukup besar di kompleks TPU Belanda, Sukun, Kota Malang dipercaya merupakan tempat peristirahatan terakhir Dolly. Terukir di prasasti itu nama D. A. Chavid, lahir 15 September 1929, wafat 7 Januari 1992.
Berdasarkan sejumlah versi, kepanjangan dari akronim D. A. itu adalah Dolira Advonso. Sumber lainnya mencatat Dollyres Advenso atau Advenso Dollyres. Sedangkan nama belakangnya Chavid, juga kerap disebut Chavit di sumber lain.
“Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?,” tanya Dolly semasa hidupnya ketika diwawancarai jurnalis Majalah Jakarta Jakarta di Malang pada 1990. Wawancara itu ditayangkan di majalah Jakarta Jakarta nomor 270.
Dolly memang pendatang baru dalam bisnis prostitusi di Kupang Gunung Timur I pada 1969 silam. Tapi ia bukan yang pertama di bisnis rumah bordil di Surabaya. Jurnalis Majalah Jakarta Jakarta mencatat ia sempat menjadi PSK di bawah seorang muncikari.
Setelah ditinggal mati oleh suaminya Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda, Dolly harus bertahan bersama anak lelakinya. Oleh sebab itu, dia terpaksa masuk ke dunia prostitusi pada 1950-an silam.
Dolly sempat hidup berpindah-pindah hingga akhirnya hijrah ke sebuah kompleks pelacuran yang cukup besar di Kembang Kuning, Surabaya pada 1960. Ia menjadi salah satu PSK Tante Beng, seorang muncikari tersohor pada masa itu.
Dari sosok Tante Beng lah, selama 8 tahun ia mempelajari banyak hal sembari mengumpulkan aset. Hingga ia tahu bagaimana menjadi seorang germo dan akhirnya mengawali bisnisnya sendiri di Kupang Gunung Timur pada 1969.
Di atas tanah bekas lahan kuburan china ia membangun rumah dan mulai menjalankan usaha “wisma” atau rumah bordil. Dari satu wisma kemudian berkembang menjadi empat wisma. Masing-masing menampung sekitar 28 PSK.
Empat wisma milik Dolly itu dinamai Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, dan Wisma Tentrem. Kemudian namanya bertransformasi seiring bergulirnya waktu hingga lokalisasi Dolly benar-benar ditutup pada 2014 lalu.
Tjahjo Purnomo Wijadi dan Ashadi Siregar dalam bukunya ‘Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly’ menyebutkan bahwa sosok ‘Dolly Khavit’ (sedikit berbeda dengan tulisan di makam yakni Chavid) memang orang pertama yang mendirikan rumah bordil di kawasan itu.
“Dolly Khavit, seorang wanita yang konon dulunya juga pelacur yang kemudian menikah dengan seorang pelaut Belanda. Dolly Khavit inilah orang pertama yang mendirikan rumah bordil di Kupang gunung Timur 1,” kata Tjahjo di bukunya.
Dalam wawancara dengan jurnalis Majalah Jakarta Jakarta pada 1990-an silam, perempuan yang lahir dari ayah yang seorang Filipina dan ibunya yang merupakan orang Jawa asli itu mengakui bahwa dirinya memang yang pertama kali menjalankan bisnis itu di Kupang Gunung I.
“Ya, memang aku yang pertama kali membuka di sana. Tapi waktu mbangun, aku bukan germo. Tak bangun lalu tak sewakan. Jadi aku bukan germo. Dan aku heran di Gang Dolly itu yang kaya malah jadi kaya dan enak-enak. Tapi yang jadi sasaran kok aku? Kok namanya jadi Gang Dolly?”
Meski telah cukup lama menjalankan usaha prostitusi dan mengaku hanya menyewakan bangunan, Dolly menyadari bahwa menjadi seorang pelacur itu sungguh tidak enak. Karena itu Dolly sendiri mengaku tidak tega menjadi germo.
“Aku iki enggak mentholo (aku ini tidak tega) jadi germo. Keluargaku tidak ada yang turunan germo. Anake wong (anaknya orang). Kasihan. Kalau jual ‘daging’ aku pengalaman. Tapi kalau disuruh jadi germo, aku tidak bisa,” ujarnya.
“Pelacur itu sakaken (kasihan). Jadi pelacur itu kasihan. Pelacur itu sengsara di dunia. Aku nggak bisa cerita panjang tentang pelacur,” tutur Dolly yang menganggap bahwa profesi PSK bukanlah dosa.
“Aku melihat pelacur itu macam-macam. Ada yang putus cinta, ada yang karena kesulitan ekonomi. Tetapi semua itu tidak dosa. Dia cari makan. Orang lakinya yang datang sendiri.”
Pada sekitaran 1990-an itulah Dolly lebih banyak bermukim di Malang bersama keluarganya. Anaknya ada 5, tapi hanya 1 anak saja yang merupakan anak kandungnya yang diketahui bernama Eddy Y. B. Harianto.
Putranya Eddy juga telah meninggal. Makamnya juga berada di dekat pusara ibunya di kompleks TPU Belanda, Sukun, Kota Malang. Dan sudah sejak 2014 silam, makamnya juga jarang dikunjungi kerabat.
Hari ini 8 tahun silam, masyarakat Surabaya menyaksikan detik-detik penutupan lokalisasi terakhir di Kota Pahlawan di Jalan Kupang Gunung, Putat Jaya, Sawahan. Pada 18 Juni 2024, kawasan lokalisasi Dolly secara resmi ditutup ditandai dengan deklarasi di Islamic Centre. Baik Gang Dolly maupun lokalisasi di Gang Jarak.
Keengganan Dolly namanya melekat sebagai lokalisasi prostitusi selaras dengan keinginan pemerintah kota dan sebagian masyarakat Surabaya. Agar tak lagi ada citra buruk yang melekat di kawasan eks Lokalisasi Dolly saat ini. Meski dunia prostitusi di Kota Pahlawan tak sepenuhnya bisa dibendung.

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.