Gaya Hidup Mendorong Konsumsi – WASPADA

Jelang MotoGP Jerman: Quartararo Kehilangan Marc Marquez – CNN Indonesia
Juni 17, 2022
MotoGP Catalunya 2022: Jack Miller Ingin Ulangi Kesuksesan Naik Podium Tahun Lalu – Okezone Sports
Juni 17, 2022
Show all

Gaya Hidup Mendorong Konsumsi – WASPADA

Life style tiap orang berbeda beda. Ada gaya hidup yang mempergunakan pendapatannya untuk hal hal penting bagi kehidupan dan meninggalkan gaya hidup yang berlebihan (hidup sederhana). Ada juga gaya hidup yang dimaksudkan agar tampil berbeda yaitu gaya hidup yang terus mengikuti tren perubahan agar dikatakan mengikuti zaman
Ada biaya hidup (cost of living) ada pula gaya hidup (life style). Keduanya masuk dalam perhitungan pengeluaran konsumsi. Cost of living diartikan sebagai penggunaan pendapatan (income) untuk pembelian barang dan jasa yang sifat penggunaanya mutlak seperti kebutuhan sehari hari dan kebutuhan keluarga masa depan seperti pendidikan, kesehatan dan tabungan serta perumahan.
Pengeluaran ini tidak bisa dikatakan tidak demi kehidupan yang berjalan. Bagi masyarakat berpendapatan menengah bawah ini penting untuk diperhatikan dan direncanakan penggunaannya.
Bagi mereka yang berpendapatan atas mungkin hal ini kurang begitu penting diperhatikan. Mereka lebih leluasa menggunakan pendapatannya yang berjumlah besar. Namun pola konsumsi mereka tetap sama dengan masyarakat yang berpendapatan menengah bawah.
Di samping pengeluaran primer penggunaan pendapatan mereka menjangkau barang dan jasa yang bersifat sekunder dan tertier.
Masalah biaya hidup adalah masalah bagaimana pendapatan yang dimiliki digunakan secara optimal dan efektif. Secara pribadi penggunaan pendapatan tersebut tentu berbeda karena adanya perbedaan pada besar kecilnya pendapatan, jumlah keluarga atau selera konsumsinya (consumers taste) dan sebagainya.
Biaya hidup tidak bersifat statis. Biaya hidup juga bergantung pada trend pertumbuhan konsumsi dan kondisi ekonomi yang berjalan. Dalam ilmu ekonomi tidak ada sesuatu yang pasti. Yang pasti itu adalah ketidakpastian.
Life style tiap orang berbeda beda. Ada gaya hidup yang mempergunakan pendapatannya untuk hal hal penting bagi kehidupan dan meninggalkan gaya hidup yang berlebihan (hidup sederhana). Ada juga gaya hidup yang dimaksudkan agar tampil berbeda yaitu gaya hidup yang terus mengikuti trend perubahan agar dikatakan mengikuti zaman.
Tulisan ini dibatasi hanya pada anggota masyarakat yang ingin tampil beda bersama anggota kelompoknya. Pribadi seperti ini banyak terdapat dalam masyarakat.
Sehari-hari yang dimaksudkan dengan life style adalah mereka yang suka bermewah mewah sesuai dengan perubahan gaya perkawanan (kelompok). Walaupun mungkin rumusan ini kurang tepat tapi hal ini banyak dilakukan oleh anggota masyarakat yang berpendapatan tinggi. 
Bagi mereka pendapatan bukan masalah. Bagi mereka gaya hidup seperti ini sudah menjadi kebutuhan sesuai dengan tujuan agar tampil beda. Ini disebut dengan konsumsi jasa sekunder. Gaya hidup mereka ini menciptakan permintaan pasar sehingga mendorong pasar berkembang.
Gaya hidup mendorong pengeluaran konsumsi menjadi tinggi. Konsumsi tinggi mendorong pergerakan ekonomi. Jadi ada positifnya juga. Yang agak lain adalah mereka yang berpendapatan menengah bawah yang mengikuti gaya hidup mereka yang berpendapatan tinggi.
Ini ganjil tapi tak bisa dikatakan latah karena dilakukan secara sadar. Dalam ilmu ekonomi ini disebut dengan demonstration effects. Hidupnya terpengaruh oleh kehidupan masyarakat kaya. Demonstration effects diartikan sebagai hasrat untuk mengikuti pola kehidupan masyarakat yang berpendapatan tinggi oleh masyarakat berpendapatan menengah bawah.
Tujuannya sama dengan masyarakat berpendapatan tinggi yaitu tampil beda. Inilah yang dikatakan dengan “agak lain”. Hal ini banyak dilakukan oleh anggota masyarakat yang berpendapatan menengah bawah.
Gaya hidup adalah masalah pribadi. Itulah sebabnya kita banyak menemukan orang pribadi (baik muda ataupun tua) yang berpenampilan beda. Tidak ada salah bagi mereka karena hal itu sudah menjadi tujuan mereka.
Namun karena mereka berpendapatan menengah bawah tentu ada dampaknya pada potensi kehidupan ekonomi mereka saat ini maupun masa mendatang. Kehidupan ini adalah kehidupan jangka panjang.
Gaya hidup yang bermewah mewah mendorong konsumsi menjadi tinggi. Dipandang dari sudut ekonomi mereka ikut menciptakan permintaan dan pengembangan pasar serta mempertahankan ekonomi tetap tumbuh. Secara makro sikap ini positif bagi pergerakan ekonomi nasional.
Namun bagi pribadi akan mengurangi potensi ekonomi masa depan karena semakin kecilnya bahagian pendapatan yang dapat ditabung. Mungkin pun tidak ada. Padahal tabungan merupakan keharusan untuk menghadapi hal hal yang tidak terduga. Mereka hidup dalam kemeriahan masa kini dan mengabaikan masa depan.
Gerakan pariwisata/resort/traveling dan resto yang bergaya moderen serta pengembangan penjualan barang lewat online sangat positif bagi pengembangan ekonomi nasional. Namun bagi konsumer pengguna (user) hal ini merupakan tantangan bagi kehidupan masa depannya jika ia mengamalkan kehidupan ini secara berlebihan.
Banyak masyarakat yang tidak sadar dengan kehidupan mewah ini. Ingin mendapatkan kepuasan hidup masa kini dan tampil beda dengan lainnya serta melupakan kehidupan masa depan.
Biaya hidup dan gaya hidup itu beda dipandang dari sudut ekonomi. Banyak masyarakat yang mengeluhkan tingginya cost of living. Dan hampir tidak ada orang yang mengeluhkan tingginya ongkos life style.
Padahal biaya hidup secara relatif tidak meminta biaya tinggi jika dibandingkan dengan ongkos gaya hidup. Pengeluaran konsumsi itu menjadi tinggi bukan berasal dari biaya hidup tapi muncul dari gaya hidup. Inilah yang harus dipahami.
Secara nasional gaya hidup mendorong pengeluaran konsumsi. Hal ini mendukung pergerakan pasar tetap berjalan dan perekonomian terus bergerak. Secara pribadi gaya hidup seperti ini bisa mengancam kehidupan masa depan jika dilakukan secara berlebihan. Sebab itu hiduplah secara wajar sesuai dengan besarnya pendapatan dan tanggung jawab keluarga/pribadi.
Memang kepuasan itu bersifat relatif karena kepuasan juga terdapat pada masyarakat yang berpendapatan menengah bawah. Sepanjang ia dapat merencanakan dan menggunakan pendapatannya secara tepat itu berarti ia sudah menggunakan pendapatannya secara optimal dan efektif.
Itu berarti ia sudah mendapatkan kepuasan (consumer’s satisfaction). Kepuasan bukan hanya terdapat pada masyarakat yang berpendapatan tinggi saja. Pokoknya bagaimana kita memandang kehidupan ini secara nyata yang bisa memberi kepuasan hidup. Terima kasih.
Penulis adalah Pemerhati Ekonomi, [email protected]

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.







source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.