GLOBALISASI: Berubahnya Gaya Hidup Masyarakat Indonesia Akibat Pergeseran Budaya – Kompasiana.com – Kompasiana.com

VIRAL! BUKAN Pemain Timnas Indonesia, Ketum PSSI Malah Video Call Sosok Ini: ''Tunggu Tanggal Mainnya!'' – Zona Banten – Zona Banten
Juni 20, 2022
Berita Terbaru Anak Ridwan Kamil: Zara Putri Bungsu Atalia Praratya Rayakan Wisuda di SMA N 3 Bandung – Kedu Today – Kedu Today
Juni 20, 2022
Show all

GLOBALISASI: Berubahnya Gaya Hidup Masyarakat Indonesia Akibat Pergeseran Budaya – Kompasiana.com – Kompasiana.com

An ordinary Psychology student who is currently enrolled in Universitas Airlangga. I have interests in psychology and social issues.
Selanjutnya
Tutup

Budaya dapat menjadi tonggak utama untuk menjadikan suatu bangsa memiliki ciri identitas tersendiri yang kuat. Budaya berkaitan erat dengan cara hidup suatu kelompok masyarakat yang berkembang dengan berbagai penyesuaian dan dimiliki secara bersama dari generasi ke generasi. Pada keadaan dunia yang sekarang semakin berkembang secara cepat, baik dalam bidang IPTEK maupun budaya, tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran budaya akan terjadi. 
Globalisasi yang terjadi secara cepat dan mendunia tidak lain merupakan penyebab dari bergesernya suatu budaya yang telah ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi memegang peran yang sangat penting terhadap eksistensi suatu budaya. Seiring dengan pesatnya proses globalisasi yang ada, mudah bagi suatu budaya untuk tergerus dan memudar keberadaannya

Pergeseran budaya yang terjadi karena globalisasi memiliki arti bahwa globalisasi memegang peran yang penting terhadap kelangsungan suatu budaya atau gaya hidup yang ada dalam suatu masyarakat. Dalam hal pergeseran budaya, budaya baru yang masuk akibat dari adanya globalisasi dinilai cenderung lebih praktis jika dibanding dengan budaya lokal. Kurangnya kemauan dan dorongan dari generasi penerus bangsa yang berminat untuk belajar dan mewarisi budaya yang sudah ada secara turun-temurun ini menjadi salah satu faktor budaya lokal tergerus oleh budaya baru yang ada. 

Soelaeman (1987: 53-54) menjelaskan bahwa nilai budaya Timur banyak bersumber pada agama-agama yang lahir di dunia Timur. Hal ini sangat bertolak belakang dengan budaya barat yang cenderung terbebas dari ikatan keagamaan yang berlaku. Selain itu, budaya timur menghayati hidup dan seluruh eksistensinya. Budaya Indonesia yang sudah mengakar kuat dengan kesesuaian budaya timur mencerminkan keramahan dan rasa saling menghormati terhadap seluruh eksistensi yang ada.

Konsumerisme memiliki berbagai pengertian dan tidak hanya terpaku pada satu aspek kehidupan. Menurut Baudrillard (dalam Martono, 2016:90), masyarakat konsumtif terlahir karena adanya gejala globalisasi yang melibatkan seluruh dunia tanpa pengecualian yang diawali dengan paham kapitalisme. Paham kapitalisme ini kemudian memanfaatkan arus globalisasi yang kencang untuk memperluas pasar dan memberi pengaruh kepada sistem yang sudah ada. Perilaku  konsumtif bisa terjadi dan terbentuk karena proses gaya hidup yang didaptasi dalam keseharian merupakan cerminan dari perilaku konsumtif itu sendiri. Konsumerisme berkaitan erat dengan adanya gaya hidup yang cenderung bergelimang dan berlebihan. Digunakannya berbagai hal mahal yang dianggap bisa memberikan rasa kepuasan dan rasa kenyamanan secara fisik ini semata-mata didorong oleh semua keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan yang ada. 
Perilaku konsumtif dapat ditandai dengan tindakan membeli barang yang sifatnya tersier tidak sesuai dengan porsi yang semestinya sehingga sifatnya menjadi berlebihan. Dari sini, terlihat bahwa terjadinya globalisasi merefleksikan adanya pergeseran budaya timur terhadap kebudayaan barat yang cenderung memiliki sifat menghambur-hamburkan segala hal yang ada. Konsumerisme yang merupakan pengaruh dari globalisasi ini sudah menjadi gaya hidup yang dinormalisasi oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. 

Individualisme dapat dikatakan menjadi salah satu bentuk dampak dari globalisasi yang merefleksikan bahwa kebudayaan barat berhasil mengambil alih dan memengaruhi gaya hidup masyarakt Indonesia. Menurut Luthans (2006), individualisme merupakan kecendrungan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri dan keluarga dekatnya. Tentunya pengaruh sikap individualisme ini memiliki kaitan langsung dengan ciri khas budaya Indonesia yang terkenal dengan keramahan, sikap saling membantu dan berinteraksi antarsesama, dan bergotong royong. Sikap individualisme inilah yang memudarkan kegiatan gotong-royong yang ada di masyarakat.
Gotong-royong tidak akan bisa terjadi apabila masyarakat lama-kelamaan menjadi Individualis akibat dari dampak globalisasi yang dirasakan. Gotong-royong tentu memerlukan sikap kebersamaan, persatuan, tolong-menolong, dan rela berkorban untuk sesama, bukan sikap individualisme. Lahirnya sikap individualisme yang kebanyakan terjadi pada remaja ini bisa dikaitkan dengan kemajuan teknologi dari dampak globalisasi. Pengaruh globalisasi telah membuat banyak anak muda kehilangan arah dan jati diri meraka sebagai penerus generasi muda bangsa Indonesia.

  • Tidak Menutup Tersebarnya Paham Sekulerisme

Seiring dengan tidak adanya batasan budaya dan mulai meleburnya kebudayaan barat di Indonesia akibat dari pengaruh globalisasi, paham sekularisme ini tidak menutup kemungkinan untuk tersebar di Indonesia. Di negara-negara Eropa, penerapan sistem pemisahan nilai-nilai agama dalam roda pemerintahan menghasilkan masyarakat yang berkehidupan bebas dari lingkaran nilai-nilai yang mendominasi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tersebarnya paham sekulerisme akibat dari globalisasi ini tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia dan bisa membawa pengaruh yang tidak baik bagi generasi penerus Indonesia yang berbudi pekerti. 
Agar bisa tetap memegang teguh budaya yang sudah mengakar tanpa ada rasa ketertutupan terhadap segala arus perubahan yang ada, penting untuk adanya penanaman jati diri budaya yang kuat pada individu agar tetap bisa bersikap bijak terhadap dampak-dampak kuat dari globalisasi yang terjadi. Sebagai Mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa, kita diharapkan untuk bisa menempatkan diri sebaik mungkin terhadap pergerseran budaya yang terjadi dan bisa bersikap bijak terhadap meleburnya budaya yang ada. 

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.