Mantan Ketua IDI Ungkap Keterbatasan Teknologi Kedokteran di Indonesia – Suara.com

Berita Terbaru Rusia Ukraina, Mariupol Akan Selalu Menjadi Ukraina – Desk Jabar – DeskJabar
Juni 14, 2022
Siap Hadapi Timnas Indonesia, Pelatih Nepal: Saya Seorang Gorkhali! – Goal.com
Juni 14, 2022
Show all

Mantan Ketua IDI Ungkap Keterbatasan Teknologi Kedokteran di Indonesia – Suara.com

Suara.com – Pemanfaatan teknologi kedokteran menjadi salah satu cara memaksimalkan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Diungkapkan oleh mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2015-2018, Prof Ilham Oetama Marsis, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi kedokteran, dalam hal ini perangkat medis berteknologi tinggi, masih timpang jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Jika membandingkan dengan kemampuan Singapura, kata Marsis, Indonesia masih tertinggal dalam kompetensi dokter di bidang teknologi robotik, teknologi nano, genetic engineering dan lainnya.
Jika dilihat dari peringkat universitas di dunia pada 2022, peringkat tertinggi di Asean adalah National University of Singapore di ranking 11, Universitas Malaysia ranking 65, Universitas Indonesia (UI) ranking 254 dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ranking 290 dari total 1.300 universitas.
Baca Juga: Hanya Punya Satu Tangan, Lelaki Ini Buat Tangan Palsu Robotik dari Plastik
“Belum termasuk peringkat yang diberikan Forum MEA yang menempatkan sistem pelayanan kedokteran di Indonesia di tempat yang sangat terbelakang sekali. Untuk peringkat UI di tataran MEA berada di nomor 1.618 dan UGM 1.955,” katanya, dalam agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Legislatif DPR RI tentang RUU Pendidikan Kedokteran.
Ia mengatakan di sejumlah negara barat telah terjadi perubahan konsep pendidikan kedokteran, terutama pada masa pandemi COVID-19 dari traditional clerkship menjadi virtual clerkship.
“Negara-negara barat telah melakukan konversi pendidikan dengan memprioritaskan teknologi tinggi, tapi ini memerlukan telehealth dan telemedicine. Indonesia sampai saat ini baru mampu menerapkan bedah telemedisin dengan kemampuan komunikasi dua arah,” katanya.
Sebagai contoh di Indonesia, kata Marsis, pemanfaatan robotik untuk keperluan bedah medis, baru dilakukan pada satu rumah sakit, yaitu RS Bunda dengan keterbatasan koneksi teknologi 2.5. “Sementara di Amerika Serikat, Jepang dan negara di Eropa sudah menggunakan teknologi 5.0,” katanya.
Dengan mengadopsi teknologi 5.0, robot bedah dapat dikendalikan dari jarak 1.250 kilometer dari lokasi operator, kata Marsis menambahkan.
Baca Juga: Spot, Robot Hyundai-Boston Dynamics di IIMS Hybrid 2022
“Ini suatu kemajuan di bidang kedokteran yang namanya pembedahan pada janin di dalam kandungan. Kita bisa mengoreksi kelainan dalam kandungan, sehingga bayi dilahirkan dengan bayi yang telah terkoreksi menggunakan robotik,” katanya.
Bahkan, Nabila Ishma Nurhabibah sempat didampingi dan diberi pengobatan oleh psi
Bercinta saat hamil boleh-boleh saja. Namun pelaksanaannya harus hati-hati agar
Berkat teknik relaksasi dan self-hypnosis pada hypnobirthing, tubuh ibu dapat me
El Rumi berhasil mengalahkan Winson Reynaldi dalam pertandingan tinju. Adakah ma
Banyak pil, suntikan, dan gel sebelumnya telah diuji coba tetapi tidak ada yang
Ini telah mengakibatkan kelumpuhan total pada sisi kanan wajahnya, dan itu berar
Frekuensi buang air kecil menurun dan jumlah urine yang keluar lebih sedikit? Bi
Cara Aurel Hermansyah menggendong bayinya dinilai kurang tepat karena beberapa f
Dampak infeksi Covid-19 pada ibu hamil tidak hanya dialami oleh ibu. Penelitian
Ikuti Kami
Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda
© 2022 suara.com – All Rights Reserved.

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *