Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diabetes Melitus Melalui Penerapan Gaya Hidup Sehat. – Depok Pos

Hamil 8 Bulan, Ria Ricis Masih Rajin Olahraga Fisik, Teuku Ryan Beri Pujian: Keren Istriku – Tribunnews.com
Juni 20, 2022
Perang Rusia Ukraina Makan Korban Lagi: Prancis & Italia – CNBC Indonesia
Juni 20, 2022
Show all

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diabetes Melitus Melalui Penerapan Gaya Hidup Sehat. – Depok Pos

DEPOK POS – Diabetes adalah salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Selain menjadi penyumbang angka kematian, penyakit tidak menular ini juga dapat menyebabkan banyak komplikasi karena diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang dari waktu ke waktu yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Terdapat dua kategori diabetes melitus yaitu DM tipe 1 yang disebabkan oleh keturunan dan DM tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.
Berdasarkan Data Riskesdas tahun 2018, terdapat peningkatan prevalensi diabetes dari Data Riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar 6,9% menjadi 8,5%. Pada tahun 2021, International Diabetes Federation (IDF) mencatat 537 juta orang dewasa (umur 20 – 79 tahun) atau 1 dari 10 orang hidup dengan diabetes di seluruh dunia. Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah pengidap diabetes sebanyak 19,47 juta. Dengan jumlah penduduk sebesar 179,72 juta, ini berarti prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10,6%. Gaya dan pola hidup yang tidak sehat saat ini telah menjadi faktor risiko utama dalam meningkatnya angka kejadian diabetes melitus, karena hampir 80% penderita diabetes merupakan penderita DM tipe-2. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan dan pengendalian diabetes melitus harus segera diterapkan untuk menurunkan prevalensi diabetes melitus di Indonesia.
WHO merekomendasikan bahwa strategi yang efektif perlu dilakukan secara terintegrasi, berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk swasta. Dengan demikian pengembangan kemitraan dengan berbagai unsur di masyarakat dan lintas sektor yang terkait dengan DM di setiap wilayah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman faktor risiko DM sangat penting diketahui, dimengerti dan dapat dikendalikan oleh para pemegang program, pendidik, edukator maupun kader kesehatan di masyarakat sekitarnya. Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28H ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

BACA JUGA:  BIAS sebagai Upaya Pengendalian Penyakit Menular

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2015 Tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular menyatakan bahwa penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakitan, kecacatan dan kematian yang tinggi, serta menimbulkan beban pembiayaan kesehatan sehingga perlu dilakukan penyelenggaraan penanggulangan melalui pencegahan, pengendalian dan penanganan yang komprehensif, efisien, efektif, dan berkelanjutan. Dengan begitu, upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mengatasi permasalahan terkait diabetes melitus adalah dengan dikeluarkannya program pengendalian diabetes melitus pada tahun 2008, yang dimana pelaksanaan program pengendalian diabetes melitus tersebut ditekankan pada kebijakan pengendalian penyakit yaitu peningkatan upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Langkah pengendalian diabetes melitus saat ini difokuskan pada pemahaman dan pencegahan faktor risikonya. Pemahaman terkait faktor risiko diabetes melitus sangat dibutuhkan sebagai upaya promotif dan preventif karena masih banyaknya masyarakat yang menganggap bahwa faktor keturunan menjadi faktor satu-satunya yang menentukan  seseorang akan mengalami diabetes melitus juga. Namun pada kenyataannya selain daripada faktor keturunan, masih ada faktor risiko lainnya yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko diabetes khususnya berkaitan dengan gaya hidup. Oleh karena itu, untuk mencegah penyakit ini, tindakan yang harus diambil adalah memahami faktor risiko terpenting dalam mengurangi risiko diabetes yaitu dengan gaya dan pola hidup sehat.

BACA JUGA:  Urgensi Program Kadarzi, Cegah Masalah Gizi Bangsa?

Kementerian Kesehatan sudah membentuk upaya pencegahan dan pengendalian PTM di Indonesia, dengan penerapan program CERDIK, yaitu :
C : Cek kondisi kesehatan secara berkala
E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktivitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang
I : Istirahat yang cukup
K : Kendalikan stress
Selain itu pengendalian DM juga dilaksanakan secara terintegrasi dalam program pengendalian penyakit tidak menular, dengan penerapan program PATUH, yaitu :
P : Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
A : Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
T : Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
U : Upayakan beraktivitas fisik dengan aman
H : Hindari rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya.
Pelaksanaan program CERDIK ini telah terlaksana di beberapa wilayah termasuk di puskesmas Jua Gaek Kabupaten Solo. Dalam penelitian Hastuti, 2017 menunjukkan bahwa ada pengaruh perilaku lansia dalam pengendalian DM sebagai PTM yang ditunjukkan melalui meningkatnya perilaku lansia dan kelompok pendukung serta terjadi penurunan kadar gula darah pada lansia. Program CERDIK dinyatakan efektif dalam pemantauan dan pengendalian DM.
Dengan pengendalian yang baik dan menjaga kadar gula darah berada dalam kategori normal, maka komplikasi akibat DM dapat dicegah. Berdasarkan implementasinya, salah satu penerapan pola hidup yang sehat adalah dengan menerapkan diet sehat dan olahraga. Diet adalah salah satu faktor utama yang sekarang dikaitkan dengan berbagai penyakit termasuk diabetes. Jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi seseorang merupakan penentu fundamental kesehatan manusia. Diet merupakan aspek penting dari manajemen diabetes secara keseluruhan. Diet bersifat individual tergantung pada usia, berat badan, jenis kelamin, kondisi kesehatan, dan pekerjaan. Adapun tujuan dari pengobatan diet diabetes adalah :
Untuk mencapai konsentrasi glukosa darah yang optimal.
Untuk mencapai konsentrasi lipid darah yang optimal.
Untuk menyediakan energi yang sesuai untuk berat badan yang wajar, pertumbuhan normal, dan perkembangan, termasuk selama kehamilan dan menyusui.
Untuk mencegah, menunda, dan mengobati komplikasi terkait diabetes.
Meningkatkan kesehatan melalui gizi seimbang.

BACA JUGA:  PTM Seratus Persen, PHBS di Sekolah Perlu Digencarkan

Walaupun adanya program CERDIK yang sudah terbilang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia, tentu masih banyak kendala yang harus dihadapi dan ditanggulangi. Menurut Dimatteo (2004) menunjukkan bahwa populasi penderita DM adalah populasi yang terendah kepatuhan (67,5%) dalam tindakan medis yang dianjurkan dibandingkan 16 penyakit utama lain. Kendala utama pada penanganan diet diabetes melitus adalah kejenuhan pasien dalam mengikuti terapi diet yang sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan. Meskipun diperlukan pola makan atau diet yang sesuai dengan perintah dokter, namun kenyataannya tingkat kepatuhan penderita dalam menjalankan program manajemen penyakit tidak cukup baik. Selain daripada itu, permasalahan yang ada saat ini terkait penyakit DM adalah sebagian besar (sekitar 3 diantara 4 orang) penderita DM tidak menyadari kalau dirinya menderita penyakit DM dan kurang adanya kesadaran klien terhadap kontrol berkala.
Permasalahan seperti ini menjadi tantangan dalam penanggulangan penyakit diabetes melitus. Oleh karenanya, yang harus segera dilakukan agar fenomena ini tidak menimbulkan masalah yang semakin besar dan dampak yang luas adalah dengan menanamkan pentingnya pola hidup sehat dan deteksi dini terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi terkena diabetes. Cara ini jauh lebih efisien dan efektif untuk menangani pasien daripada saat mereka sudah jatuh sakit. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga dapat aktif melakukan edukasi skrining rutin diabetes, edukasi diet rendah gula dan garam serta melakukan kampanye pola hidup bersih dan sehat melalui slogan PATUH dan CERDIK sehingga dapat berdampak kepada kesadaran masyarakat untuk menerapkan gaya hidup yang sehat.
Rani Ayu Rohana Siagian
Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Program Rehabilitasi bagi Penderita Long Covid
Urgensi Program Kadarzi, Cegah Masalah Gizi Bangsa?
Pentingnya Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
Tablet Tambah Darah dalam Mengatasi Anemia pada Rematri di Indonesia
Posbindu PTM: Langkah Awal Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Indonesia
Yuk, Bersama Pasti Bisa Antisipasi Stunting pada Anak!

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.