Yuk, Belajar Kepemimpinan dari Dunia Olahraga – Kompas.com – KOMPAS.com

Teknologi Informasi dalam Menunjang Keberlangsungan Hidup Manusia – Kompasiana.com – Kompasiana.com
Juni 8, 2022
Bonus Rp2,5 Milyar Dikucurkan Buat Timnas Indonesia, Setiap Pemain Dapat Rp38 Juta – Bola.net
Juni 8, 2022
Show all

Yuk, Belajar Kepemimpinan dari Dunia Olahraga – Kompas.com – KOMPAS.com

Yuk, Belajar Kepemimpinan dari Dunia Olahraga
Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Oleh: Frangky Selamat*
MINGGU, 15 Mei 2022. Satu hari dua drama bagi dunia olahraga Indonesia. Tim Piala Thomas belum berhasil mempertahankan gelar. Kalah 0-3 dari India. Hanya tujuh bulan saja Piala Thomas di tangan Indonesia. Kini melayang terbang ke India, sang kejutan pembunuh raksasa.
Di cabang olahraga lain dalam perhelatan Sea Games ke-31 di Hanoi, Vietnam, Timnas Sepakbola Indonesia dengan gagah perkasa menaklukkan Myanmar 3-1 dan lolos ke semifinal. Sepakbola Indonesia kini bisa bernapas lega. Asa meraih medali emas terbuka lebar.
Di balik hingar-bingar pertandingan yang menggelora, terbayangkah tim dan personel yang bekerja menyiapkan para pemain agar siap tampil dan memenangkan pertandingan? Atau bagaimana sepak terjang tim pelatih atau pemimpin tim di balik perjuangan pemain di tengah lapangan?
Baca juga: Elon Musk, Kepemimpinan Global, dan Dampaknya bagi Indonesia
Para peneliti di bidang kepemimpinan mengemukakan keserupaan bagaimana seorang pemimpin bisnis (business leader) mengelola bisnis bersama tim sehingga berdaya saing dibandingkan tim pelatih (sport leader) menyiapkan atlet sehingga kompetitif dalam pertandingan.
Kepemimpinan (leadership) di dunia olah raga dapat menjadi refleksi bagi pemimpin bisnis. Ada hal yang dapat diaplikasikan, yang akan meningkatkan daya saing.
Kualitas kepemimpinan bagi seorang pemimpin ada pada kemampuannya memengaruhi tim yang dipimpin untuk mengikuti arahan dan tindakan agar visi dan misi yang ditetapkan tercapai. Seorang manajer konvensional lebih fokus untuk memastikan bahwa aktivitas berjalan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.
Pemimpin (leader) yang ideal selalu membawa perubahan ke arah yang lebih baik dengan serangkaian terobosan inovatif yang tidak terpikirkan pemimpin sebelumnya. Sementara manajer yang efektif harus dapat menjamin stabilitas usaha dari “turbulensi-turbulensi” yang mengganggu bisnis yang dikelola.
Pemimpin dan manajer adalah dua tipe yang berbeda. Dunia olahraga yang melibatkan personel di dalam tim tidak lepas dari kepemimpinan yang biasa dipimpin oleh seorang pelatih (coach) atau manajer tim.
Gordon (2007) membedakan pemimpin bisnis dengan dengan pemimpin di dunia olahraga ke dalam enam aspek.
Pertama, pemimpin olahraga terlibat pada sebagian besar pembinaan tim tetapi hanya sesekali saat membangun tim. Sebaliknya pada pemimpin bisnis, lebih sering terlibat dalam membangun tim ketimbang membina dan melatih tim. Singkat kata, pemimpin olahraga lebih fokus pada pembinaan sedangkan pemimpin bisnis pada pembangunan tim.
Kedua, pemimpin olahraga selalu mencoba untuk memilih pemain terbaik untuk tim. Sementara pemimpin bisnis jarang melakukan audit keterampilan staf dalam kerja, sehingga bisa saja bukan personel terbaik yang bergabung di dalam tim.
Baca juga: 10 Tipe Kepemimpinan Tahun 2022, Calon Pemimpin Harus Tahu!
Ketiga, secara umum, pemimpin olahraga menangani atau mengelola orang dengan lebih baik. Pemimpin tidak bisa dengan mudah memecat bakat yang sangat diperlukan. Selalu ada harapan bahwa pembinaan akan menghasilkan sasaran yang diinginkan. Ada proses di situ. Sebaliknya pemimpin bisnis memecat atau “menembak” sesuka hati melalui pejabat berwenang secara tertulis atau dengan prosedur peringatan.
Keempat, pemimpin olahraga menyingkirkan “pencuri energi” (tipe negatif) atau setidaknya mencoba menjauhkan mereka dari pemain berbakat lain sehingga tidak “terkontaminasi” pengaruh buruk. Sementara pemimpin bisnis tidak mudah melakukan ini dan bahkan jarang dilakukan.
Kelima, pemimpin olahraga semakin terlibat dalam aktivitas yang menghasilkan standar dan harapan untuk membangun perilaku berdasarkan nilai (“aturan tim”) sementara pemimpin bisnis jarang melakukannya meskipun meningkatkan “dorongan” yang diperoleh dari konsultan bisnis.
Terakhir, pemimpin olahraga terlibat secara teratur dalam mengidentifikasi dan mengembangkan bakat karena bakat asli sangat langka tetapi teramat penting untuk sukses. Sementara bagi pemimpin bisnis itu dilakukan hanya mungkin untuk manajemen tingkat atas tetapi jarang di tingkat yang lebih rendah.
Burnes dan O’Donnell (2011) menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan di dunia bisnis dan olahraga. Pertama, kepemimpinan yang efektif sama pentingnya di kedua bidang itu. Kepemimpinan menjadi penentu utama keberhasilan di dalam dunia bisnis dan olahraga.
Kedua, tampaknya ada area di mana para pemimpin olahraga tampak lebih unggul dari rekan bisnis mereka, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan potensi penuh tim dan individu. Pemimpin olah raga mencoba mengembangkan segala potensi yang ada sekalipun sumber daya yang ada kurang mendukung.
Ketiga, dunia olahraga menawarkan pendekatan holistik untuk pengembangan kepemimpinan, yang melampaui pendekatan sebagian besar program pengembangan manajemen dan kepemimpinan.
Terakhir, tampaknya ada empat aspek umum dalam literatur kepemimpinan olahraga dan bisnis: pertama, karakter atau sifat-sifat pribadi yang diperlukan untuk pemimpin yang sukses; kedua, kemampuan yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan; ketiga, konteks kepemimpinan agar dapat memahami situasi dan merespons dengan cepat dan tepat; serta keempat, tantangan kepemimpinan akan kebutuhan perubahan yang terus-menerus.
Di dalam dunia olahraga ada tiga pelaku yang berperan yaitu, pemain (pelaku), pelatih (pemimpin), dan wasit (regulator). Masing-masing berpegang pada tugasnya sehingga pertandingan berjalan lancar, dan tentu saja sportivitas tetap menjadi kunci utama. Yang kalah dengan sportif mengakui keunggulan lawan. Yang menang tidak lalu menjadi arogan dan jemawa.
Adakah sportivitas itu berlaku di dunia bisnis, jika memang kompetitor lebih unggul lalu mengakui “kekalahan” itu, karena pesaing lebih baik?
Kesimpulannya tidak berarti pemimpin bisnis mengikuti apa yang dilakukan pemimpin di dalam dunia olahraga, demikian pula sebaliknya. Masing-masing ada hal positif yang dapat ditiru dan diaplikasikan.
Persaingan bisnis yang kerap kali tidak sehat ada kalanya membutuhkan pembelajaran yang menyegarkan. Pemimpin bisnis yang reflektif pasti akan memetik banyak contoh baik dari kompetisi di dunia olahraga. Di balik pertandingan yang seru dan mengharu biru ada banyak pelajaran yang patut ditiru.
* Frangky Selamat adalah Dosen Tetap Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tarumanagara (Untar).

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Kunjungi kanal-kanal Sonora.id
Motivasi
Fengshui
Tips Bisnis
Kesehatan
Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.